KOLOID

A. SISTEM KOLOID

Dispresi adalah pencampuran secara merata antara dua zat atau lebih. Zat yang

jumlahnya sedikit disebut fasa terdispersi (fasa dalam) dan zat yang jumlahnya banyak

disebut fasa pendispersi (fasa luar). Jika diambil contoh larutan berarti zat terlarut sebagai

fasa terdispersi adan zat pelarut sebagai fasa pendispersi.

1. Sistem larutan

Pencampuran dau zat yang sudah kita pahami adalah larutan. Dalam larutan zat terlarut

dicampur dengan zat pelarut. Umumnya zat terlarut jumlahnya sedikit berarti dapat disebut

sebagai fasa terdispersi dan zat pelarut umumnya jumlahnya labih banyak sehingga disebut

fasa pendispersi.

Jadi larutan atau disebut juga larutan sejati adalah zat terlarut sebagai fasa terdispersi,

molekul-molekulnya tersebar secara merata dalam komponen zat pelarut sebagai fasa

pendispersi. Larutan ini dapat dikatakan dispersi molekular artinya setiap komponen molekul

zat terlarut secara merata dalam media fasa pendispersi. Karena diameter molekul-molekul

ini kecil dengan ukuran lebih kecil dari 10-7 cm maka kita tidak mampu membedakan antara

fasa zat terlarut dengan fasa zat pelarut. Dengan mikroskop ultarpun tidak bisa dibedakan.

Untuk itu maka kita katakan campuran tersebut adalah homogen. Dengan jenis kertas saring

apapun, zat terdispersi tidaka dapat diasaring. Dengan demikian sistem dispersi larutan dapat

dikatakan sebagai dispersi molekuler dengan bentuk fisik homogen.

Penulisan larutan yaitu dengan memberikan identitas aqua (aq) pada setiap molekul.

Misalnya zat A dilarutkan dalam air maka dituliskan A(aq. Ini artinya molekul-molekul A

tersebar merata dalam media air (aqua).

Contoh larutan antara lain gula, garam yang dilarutkan dalam air.

2. Sistem Suspensi

Suspensi atau disebut juga suspensi kasar merupakan campuran heterogen antara fasa

terdispersi dalam edium pendispersi. Secara umum fasa terdispersi adalah padatan dan

medium pendispersi adalah air. Dalam sistem suspensi dapat dibedakan antara zat terdispersi

dan medium pendispersi. Fasa terdispersi dalam bentuk padatan dengan ukuran yang besar

akan terlihat tersebar dalam medium air. Karena ukuran zat terdispersi besar maka fasa air

tidak mampu lagi menahannya maka zat terdispersi akan mengendap. Ukuran zat terdispersi

dalam suspensi lebih besar dari 10-5 cm. dengan penyaring biasa zat terdispersi dapat

tersaring.

Jadi suspensi adalah dispersi padatan dalam bentuk fisik heterogen.

Penulisan sistem suspensi dalam air yaitu dengan memberikan identitas solid (s) yang

menunjukkan bahwa padatan-padatan (solid) dari zat terlarut terdispersi. Misalnya bentuk

suspensi A, dituliskan A(s). ini artinya padatan A tersebar secara merata dalam media air.

Contoh suspensi antara lain campuran tepung beras dalam iir, campuran pasir halus dalam

air.

3. Sistem Koloid

Sistem koloid adalah campuran homogen antara fasa terdispersi dan fasa pendispersi.

Campuran ini homogen artinya campuran dua zat menyatu dan sulit dibedakan. Hanya saja

fase terdispersinya bukan dalam bentuk molekuler (bukan setiap molekul tersebar) tetapi

gabungan dari beberapa molekul. Jika kita ambil contoh yang umum, zat terdispersi padatan

dalam fasa pendispersi air, maka sistem koloid merupakan dispersi padatan (gabungan dari

banyak molekul) yang tersebar dalam medium pendispersi. Hanya saja partikel padatan yang

terdispersi ini kecil sehingga tidak bisa dibedakan mana fasa terdispersi dan mana fasa

pendispesi.

Dibanding dengan suspensi ukuran fasa terdispersi partikel koloid lebih kecil yaitu

lebih kecil dari 10-7 dan lebih besar dari 10-7 cm.

Adanya partikel terdispersi dapat dibedakan dengan mikroskop ultra. Zat terdispersi dapat

disaring dengan penyaring ultra. Dengan demikian dispersi sistem koloid sama dengan

dispersi sistem suspensi yaitu dispersi padatan.

Bentuk fisik sistem koloid sama dengan bentuk larutan yaitu campuran homogen.

Dengan demikian penulisan zat yang terdispersi dalam sistem kloid sama seperti pada

suspensi yaitu dengan memberikan identitas solid (s) dibelakang nama zat.

Contoh, Zat A dilarutkan dalam air menghasilkan koloid A, maka dituliskan A (s) srtinya

padatan A terdispersi dalam air. Dalam kehidupan sehari-hari contoh sistem koloid antara

lain agar-agar yang dilarutkan dalam air, es krim, air santan, susu, asap, kabut.

Dari penelitian tadi, persamaan dan perbedaan ketiga sistim dispersi adalah :

Sifat Sistem Dispersi

Larutan Koloid Suspensi

Bentuk campuran

Bentuk dispersi

Penulisan

Ukuran diameter

partikel

Pemeriksaan

mikroskop

Penyaringan

Homogen

Dispersi molekuler

A (aq)

< 10-7 cm

Tetap homogen

dengan mikroskop

ultra

Tidak dapat dengan

penyaring apapun

Homogen

Dispersi padatan

A (s)

10-7 – 10-5 cm

Heterogen dengan

mikroskop ultra

Dapat diasaring

dengan penyaring

ultra

Heterogen

Dispersi padatan

A (s)

> 10-5 cm

Dengan mata

biasa heterohen

Dapat diasaring

dengan penyaring

biasa

B. MACAM KOLOID

Untuk mengetahui macam sistem koloid kita perhatikan beberaa contoh koloid yang ada

dalam kehidupan sehari-hari.

1. Jika sabun, d etergen atau shampo dikocok dengan a ir maka akan terjadi buih.

Perhatikan gelembung buih, ada udara yang tersekat oleh air, berarti fasa

terdispersinya udara (gas) dan fasa pendispersinya cair (air).

2. Perhatikan asap yang keluar dari knalpot mobil bahan bakar solar, asap kompor

minyak tanah atau asap pembakaran sampah. Ada partikel-partikel hitam (ini

merupakan partikel karbon) yang berupa padatan kecil yang terdispersi di udara. Jadi

asap adalah fasa terdispersi padat dan fasa pendispersi gas.

3. Jika kita semprotkan air ke udara atau kita perhatikan kabut didaerah pegunungan

(puncak), maka akan terlihat partikel-partikel air (cair) yang ada dalam udara. Jadi

kabut adalah fasa terdispersi cair dan fasa pendispersi gas.

4. Koloid yang banyak sekali penggunanya adalah emulsi. Kita ambil contoh minyak

(wujud cair) dicampur dengan air (wujud cair) maka minyak dan air akan memisah.

Tetapi jika campuran tersebut kita tambahkan sabun dan dikocok, maka minyak akan

bercampur dengan air. Campuran minyak dan air disebut emulsi, dimana fase

terdispersinya cair dan fasa pendispersinya juga cair. Sabun sebagai zat pembentuk

emulsi yang disebut zat emulgator.

Contoh emulsi :

– Makanan : Susu, santan, es krim

– Kosmetik : sun cream, hair cream, skin cream, dan lain-lain

– Obat-obatan : krim salep, siruyp minyak ikan

5. Jika padatan didispersikan dalam air maka akan membentuk koloid. Koloid semacam

ini disebut sol. Contoh, Kanji (tepung tapioka) dalam air, agar-agar dalam air, tawas

atau Al(OH)3 dalam air yang digunakan untuk mengendapkan kotoran. Koloid sol

seperti kanji dan agar-agara jika dibekukan disebut gel (jel). Dalam kosmetik dan

obat-obatan koloid padat dalam bentuk cairan adalah lotion.

Dilihat dari fasa terdsipersi (fasa dalam) dan fasa pendispersi (fasa luar) maka secara

umum dapat dikelompokkan menjadi 8 macam koloid :

No Fasa Terdispersi Fasa Pendispersi Nama Koloid Contoh

1

2

3

4

5

6

7

8

Gas

Gas

Cair

Cair

Cair

Padat

Padat

Padat

Cair

Padat

Gas

Cair

Padat

Gas

Cair

Padat

Buih

Busa padat

Aerosol cair

Emulsi

Emulsi padat

Aerosol padat

Sol

Sol padat

Buih sabun, shampo,

detergen, lerek

Karet busa, batu

apung

Kabut

Susu, santan, es

krim, mutiara, keju

Asap

Cat, larutam agaragar,

larutan kanji,

lotion

Kaca berwarna,

campuran logam

Campuran gas dengan gas tidak mungkin membentuk koloid, karena akan bercamur

secara melokuler dan homogen.

SIFAT-SIFAT KOLOID

C. SIFAT KHAS PARTIKEL KOLOID

Partikel koloid mempunyai sifat-sifat khas seperti efek Tyndall, gerak brown, adsorpsi,

koaguasi, koloid liofil, dan koloid liofob.

1. Efek Tyndall

Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Perhatikan gambar

berikut ini, jika seberkas cahaya dilewatkan pada larutan dan pada koloid. Maka terlihat

bahwa pada koloid sorotan cahaya akan nampak jelas.

Gambar 14.1 : a. Cahaya dilewatkan pada larutan

b. Cahaya dilewatkan pada koloid (efek tyndall)

Efek Tyndall terjadi karena partikel koloid dengan ukuran lebih besar mampu

memantulkan kembali cahaya yang diterima. Sedangkan pada larutan karena molekuler

maka ukuran partikel tersebut kecil sekali dan tidak mampu memantulkan cahaya yang

diterima dan mata kitapun tidak mampu mengamatinya. Contoh dalam kehidupan sehari-hari

: sorot lampu mobil pada malam haripun akan terlihat jelas kalau ada sedikit partikel-partikel

debu, a sap, atau kabut. Tetapi setelah hujan besar dan tidak ada mobil lain maka sorot lampu

tidak akan kelihatan jelas dan tidak menyilaukan. Begitu juga kalau kita nonton film di

bioskop dan ada orang yang merokok, maka sorot lampu proyektor akan terlihat jelas dan ini

menjadikan gambar film di layar tidak jelas. Merokok di bioskop disamping mengganggu

(merusak) kesehatan orang lain juga menggaggu keindahan film.

Efek Tyndall juga terjadi pada pancaran sinar matahari ke bumi. Pada waktu siang hari

yang cerah, maka langit akan terlihatr biru. Hal ini terjadi karena pancaran sinar matahari

yang melewati partikel-partikel koloid di udara berupa debu partikulat. Hanya sinar matahari

dengan panjang gelombang kecil (energi besar) yang dipantulkan, yaitu biru, nila. Hal ini

karena posisi matahari yang berada jauh dari horizon sedangkan pada sore hari posisi

matahari dekat dengan horizon maka hanya sinar dengan panjang gelombang besar (energi

kecil) yang dipantulkan yaitu merah, jingga.

2. Gerak Brown.

Gerak Brown adalah gerak acak, gerak tidak beraturan dari partikel koloid. Gerakan ini

terjadi karena benturan molekul-molekul zat pendispersi pada partikel koloid. Gerak Brown

ditemukan oleh Robert Brown, seorang ahli biologi dari Inggris. Dia melihat dalam

mikroskop ultra gerakan tepung sari yang terus menerus dalam air. Kemudian Brown juga

mengamati pergerakan partikel-partikel kecil dalam batu kristal yang transparan. Gerakan ini

tidak teratur persis seperti yang dilihatnya pada tepung sari dalam eksperimen biologinya.

Gambar 14.2 : Gerak brown

Gerakan ini terjadi karena datangnya benturan dari partikel pendispersi dari arah

sembarangan, saat ini dari satu arah, saat lain dari arah berlawanan dan seterusnya. Tiap kali

benturan, menyebabkan partikel koloid terpelanting dengan jarak yang pendek saja. Hal ini

karena ukuran partikel koloid (partikel padatan) yang jauh lebih besar dari partikel

pendispersi (ukuran partikel olekuler). Dengan demikian gerakan ini patah-patah dan tanpa

banyak berpidah tempat dari asal.

3. Adsorpsi

Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsopsi (penyerapan) terhadap partikel atau ion

senyawa yang lain. Penyerapan terhadap ion positif atau ion negatif dari partikel koloid

menyebabkan koloid menjadi bermuatan. Partikel koloid (Fe(OH)3 sebetulnya tidak

bermuatan, tetapi karena partikel koloid Fe(OH)3 mampu mengikat (mengadsopsi) ion-ion

positif (ion H) maka permukaan koloid Fe(OH)3 menjadi bermuatan positif.

H+ H+ S2- S2-

H+ Fe (OH)3 S2-

H+

H+ H+ S2- S2-

Hal ini terjadi juga pada partikel koloid As2S3 yang mampu mengikat ion-ion negatif (ion

S2-) maka koloid As2S3 menjadi bermuatan negatif.

Jadi muatan pada partikel koloid terjadi bukan karena terionisasi, seperti pada larutan

tetapi karena partikel koloid mengadsopsi ion-ion lain sehingga muatan ini hanya pada

permukaannya saja. Dalam kehidupan sehari-hari sifat adsorpsi partikel digunakan sebagai :

a. Menjernihkan air

Larutan koloid yang dipergunakan adalah tawas. Tawas dalam air akan

menghasilkan Al(OH)3 yang sukar larut dalam air dan membentuk koloid. Partikel

koloid Al(OH)3 mapu mengikat kotoran-kotoran dalam air sehingga mengumpul

dan mengendap kemudian air menjadi jernih. Untuk air minum atau penggunaan

sehari-hari bisa ditambahkan kaporit untuk membunuh kuman.

b. Menjernihkan larutan gula (syrup) atau larutan garam

Koloid yang digunakan adalah putih telur. Masukkan gula atau garam dalam air

dan biarkan larut dengan cara dipanaskan dan diaduk. Setelah larut, masukan

putih telur, aduk terus. Putih telur akan menggumpal dan mengadsorpsi

(menyerap) kotoran yang ada. Gumpalan putih telur dipisahkan ma ka syrup atau

larutan garam sudah jernih.

c. Menghilangkan bau badan

Untuk menghilangkan bau ba dan digunakan Al-Starat. Al-stearat ini digosokkan

pada badan atau ketiak. Dengan adanya keringat maka akan membentuk koloid

Al(OH)3 yang akan menyerap bau badan.

4. Koagulasi

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan

terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi

dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan, pengadukan atau secara

kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.

a. Koagulasi karena pemanasan

Telur meupakan sistem koloid, jika dipanaskan akan terjadi koagulasi. Begitu

juga pada santan dan susu. Untuk itu kalau memanaskan susu murni atau masak

masakan dengan santan kelapa (seperti sayur lodeh) maka harus diaduk perlahan

dengan api kecil. Kalau tanpa peradukan atau api besar, maka air santan/susu akan

pecah dan terkoagulasi.

b. Koagulasi karena penambahan elektrolit

Jika susu ditambahkan jeruk nipis (asam) maka susu tersebut akan

menggumpal. Begitu juga pada susu yang sudah basi akan menghasilkan asam

laktat, maka susu akan menggumpal.

Partikel karet dalam lateks dapat dikoagulasikan dengan penambahan asam

asetat.

Koagulasi ini digunakan dalam pembuatan tahu dari kedelai. Kedelai

dihancurkan dengan air, kemudia air kedelai yang berupa emulsi dikoagulasikan

dengan penambahan CaSO4 2H2O. Senyawa ini yang sehar-hari disebut sebagai

“batu tahu”. Asam dan batu tahu merupakan elektrolit.

c. Pencampuran dua koloid berbeda muatan

Koloid yang bermuatan positif seperti Fe(OH)3, Al(OH)3 jika dicampur

dengan koloid yang bermuatan negatif seperti As2S3 sol emas akan membentuk

endapan.

Koagulasi atau endapan ini terjadi karena muatan permukaan dari masingmasing

koloid saling bergabung (saling menetralkan) dan makin banyak yang

bergabung akan membentuk partikel yang besar dan mengendap.

5. Koloid Liofil dan Koloid Liofob

Koloid ini terjadi pada sol dimana partikel terdispersinya padatan dan fasa

pendispersinya cairan.

Koloid liofil adalah koloid sol dimana partikel koloid (sebagai fasa terdispersi)

senang (dapat menarik / dapat mengikat) cairannya (sebagai fasa pendispersi). Liofil

artinya : lio = cairan dan philia = senang, cinta. Contoh koloid liofil adalah sol kanji,

agar-agar, lem, cat, gelatin, protein, sabun, dan lain-lain.

Koloid lofob adalah koloid sol dimana partikel koloid tidak senang pada

cairannya. Liofob artinya : lio = cairan dan phobia = takut, tidak senang. Contoh

koloid liofob adalah sol belerang, sol emas, sol As2S3, sol Fe(OH)3.

Pada sol liofil antara partikel koloid dan fasa pendispersi menyatu, sekaan

seperti larutan. So liofil terlihat bening seperti putih telur, larutan kanji, agar-agar,

sabun, gelatin. Jika pada sol liofil ditambahkan cairannya, maka cairan tersebut akan

diserap oleh partikel koloid sehingga akan bercampur.

Pada sol liofil yang pekat akan memadat yang disebut jel. Jel terjadi karena

cairan sebagai fasa pendispersi diikat (dibungkus) oleh molekul fasa terdispersi

sehingga partikel koloid membentuk molekul raksasa yang sangat besar.

H2O H2O H2O H2O

H2O

H2O H2O H2O

Gambar 14.4 : Pengikatan air oleh koloid liofil

Jadi seperti kantong plastik yang tipis kemudian diisi oleh bola-bola yang banyak, maka

kantong plastik menjadi besar. Perhatikan pada satu bungkus serbuk agar-agar (sekitar 7

gram) dapat dibuat kue agar-agar berbentuk jel sebanyak satu piring besar. Wujud agar-agar

setelah menjadi kue adalah padat, hal ini merupakan wujud agar-agarnya bukan wujud air.

D. PERISTIWA ELEKTROFERESIS

Kita sudah mempelajari adanya koloid yang bermuatan seperti : Koloid bermuatan positif

: Fe(OH)3, Al(OH)3 dan koloid bermuatan negatif : sol emas, As2S3.

Jika koloid yang bermuatan positif seperto sol Fe(OH)3 daliri arus listrik searah kemudian

dimasukan elektroda positif dan elektroda negatif, maka partikel koloid Fe(OH)3 bergerak

dan mengumpul pada elektroda positif dan negatif. Begitu juga jika kedua elektroda

dimasukan dalam koloid As2S3 maka partikel koloid tersebut akan bergerak dan mengumpul

pada elektroda positif.

Peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke salah satu welektroda disebut

elektroferesis.

+ –

Koloid +

Gambar 14.5 : Elektroferesis koloid bermuatan positif

Elektrofersis dapat digunakan untuk mendeteksi (menentuan) muatan partikel koloid.

Jika partikel koloid berkumpul di elektroda positif berartio koloid bermuatan negatif dan jika

partikel koloid berkumpul di elektroda negatif berarti koloid bermuatan positif.

Prinsip elektriferesis digunakan untuk membersihkan asap dalam satu industri dengan alat

Cottrell

asap

gambar 14.6 : Alat Cottrell

Asap merupakan koloid padat yang terdispersi di udara. Asap dialirkan ke cerobing

dengan adanya plat kawat bertegangan tinggi. Partikel asap akan mendapat muatan dan

kemudian tertarik oleh pelat yang bermuatan berlawanan, kemudian mengendap. Alat ini

dapat menghilangkan dampak negatif dari asap terhadap lingkungan.

E. DIALISIS

Dialisis adalah proses pemurnian partikel koloid dari muatan-muatan yang menempel

pada permukaannya. Adanya ionion tersebut merupakan sisa dari pereaksi pada proses

pembuatannya.

Misalnya pada pembuatan koloid Fe(OH)3 terdapat ion-ion H+ dan Cl-. Begitu juga pada

pembuatan koloid As2S3 terdapat ion-ion H+ dan S2-.

Cara melakukannya :

Masukkan koloid ke dalam kantong dengan selaput semipermebel yaitu selaput yang

dapat melewatkan ion-ion dan air tetapi tidak dapat melewatkan partikel koloid. Ini dapat

dilakukan karena ukuran partikel koloid jauh lebih besar dari partikel ion dan air. Kemudian

kantong dimasukan dalam air, maka ion-ion akan keluar (berdifusi) masuk ke air.

Sol Fe(OH)3

H+ / air H+ / air

H+ / air air H+ / air

Gambar 14.7 : Dialisis

Untuk mempercepat proses dialisis dapat dilakukan dengan mengalirkan air ke dalam

kantong. Maka ion akan keluar bersama air dan koloid dalam kantong terbebas dari ion-ion.

F. PENGOLAHAN AIR

Air di alam dalam keadaan tidak murni. Air di alam bermula dari air hujan. Air hujanpun

sudah mengandung gas-gas, debu-debu atau kuman yang ada di udara. Apalagi sudah ada

dipermukaan bumi, air akan menyerap zat-zat atau pengotor sekitarnya baik secara fisik

(tanah, daun-daunan, kayu), secara kimia (garam, asam, basa) ataupun secara biologis

(bakteri, jamur, kapang).

Jika air dipergunakan untuk keperluan rumah tangga, maka air yang ada di permukaan

bumi (air tanah, air sungai, air danau) harus diolah terlebih dahulu agar terbebas dari bahanbahan

pengotor. Secara garis besar pengolahan air dapat dilakukan melalui proses :

– Koagulasi (penggumpalan kotoran)

– Penyaringan

– Desinfeksi (membunuh kuman)

1. Proses Koagulasi

Proses ini dilakukan berdasarkan pada sifat adsorpsi partikel koloid. Koloid yang

digunakan untuk mengedorpsi kotoran adalah Al(OH)3. Partikel Al(OH)3 akan mengadorpsi

tanah dan kotoran lainnya kemudian menggumpal dan mengendap. Koloid Al(OH)3 diperoleh

dari melarutkan tawas : K Al(SO4)2, aluminium sulfat : Al2(SO4)3 atau PAC (Poly

Alluminium Clorida) AlCl3 – AlCl3 – AlCl3……. PAC ini lebih bagus dibanding yang

lainnya dan ini sudah banyak digunakan dalam pengolahan air dalam jumlah besar.

2. Penyaringan

Gumpalan yang terjadi pada proses koagulasi dipisahkan dengan cara penyaringan. Air

yang keluar dari penyaringan sudah jernih. Sebagai penya ring biasanya digunakan lapisan

pasir, kerikil, dan ijuk.

3. Desinfeksi

Karena air di alam sangat mudah tercampur oleh kuman-kuman, maka dilakukan

disinfeksi dengan menambah kaporit, Ca(Ocl)2. Jadi penambahan kaporit untuk membunuh

kuman-kuman. Hanya saja air yang ditambahkan kaporit akan berbau klor. Untuk

menghilangkan bau dapat digunakan arang.

Secara sederhana pengolahan air dalam jumlah yang tidak terlalu banyak dapat dilakukan

sebagai berikut :

Lempengan kaca

pasir

kerikil

ijuk

arang

ijuk

gambar 14.8 : Penjernihan air secara sederhana

Air tawas

kaporit

Air bersih

Pada proses penjernihan tawas dan kaporit langsung pada tahap awal. Sedangkan secara

besar-besarn, untuk jumlah air yang banyak dapat dilakukan sebagai beikut :

a pengendapan

saringan cepat

b c e e e e f pompa

d

b g

b reservoir air

dalam tanah

d e e e e

b kantor

Bahan kimia saringan lambat

Gambar 14.9 : Penjernihan air secara besar besaran

G. KOLOID DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Sifat karakteristik kolid yang penting, yaitu sangat bermanfaat untuk mencampur

zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil

untuk produksi skala besar. Oleh karena sifat tersebut, sistem koloid menjadi

banyak kita jumpai dalam industri (aplikasi kolid untuk produksi cukup luas).

Tetapi selain industri, sistem koloid juga banyak dapat kita jumpai dsalam

kehidupan kita sehari-hari, contohnya saja di alam, kedokteran, pertanian, dsb;

– Penggumpalan darah

Darah mengandung sejumlah kolid protein yangbermuatan negative. Jika terdapat

luka kecil, maka luka tersebut dapat doibati dengan pensil stiptik atau tawas yang

mengandung ion-ion Al+3 dan Fe+3, dimana ion-ion tersebut akan membantu

menetralkan muatan-muatan partikel koloid protein danmembnatu penggumpalan

darah.

– Pembentukan delta di muara sungai

Air sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat yang

bermuatan negatif. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+, Mg+2, dan Ca+2

yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu di laut, maka ion-ion positif

dari air laut akanmenetralkan muatan pasir dan tanah liat. Sehingga, terjadi

koagulasi yang akan membentuk suatu delta.

– Pengambilan endapan pengotor

Gas atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri seringkali

mangandung zat-zat pengotor berupa partikel-partikel koloid. Untukmemisahkan

pengotor ini, digunakan alat pengendap elektrostatik yang pelat logamnya yang

bermuatan akan digunakan untuk menarik partikel-partikel koloid.

– Pemutihan gula

Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem

koloid tanah diatomae atau karbon, partikel-partikel koloid kemudian akan

mengadsorbsi zat warna tersebut. Sehingga gula

PEMBUATAN SISTEM KOLOID

A. CARA KONDENSASI

Cara kondensasi termasuk cara kimia. Pada proses kodensasi, molekul-molekul dari

larutan direaksikan menghasilkan suatu senyawa yang sukar larut dalam air dan

membentuk partikel koloid.

kondensasi

Partikel molekuler partikel koloid

(partikel kecil)

Reaksi kimia untuk menghasilkan partikel koloid dapat merupakan :

1. Reaksi Redoks

Pada reaksi ini terjadi perubahan bilangan oksidasi

Contoh :

a. Pembuatan Sol Belerang

2H2S (g) + SO2 (aq) → 3S (s) + 2H2O (l)

b. Pembuatan sol emas

Sol emas dibuat dari larutan AuCl3 direaksikan dengan besi (II) sulfat atau

formaldehid.

AuCl3 (aq) + 3FeSO4 (aq) → Au (s) + Fe (SO4)2 (aq) + FeCl3 (aq)

Atau

2AuCl3 (aq) + 3HCOH + 3H2O → 2Au (s) + 6HCL (aq) + 3HCOOH (aq)

2. Reaksi Hidrolisis

Sol senyawa hidrolisis yang sukar larut seperti Fe(OH)3, Al(OH)3 dapat

dibuat dari reaksi hidrolisis dengan air.

Contoh :

a. Pembuatan sol Fe(OH)3

Larutan FeCl3 ditambahkan pada air mendidih maka :

FeCl2 (aq) + H2O (l) → Fe(OH)3 (s) + 3HCL (aq)

b. Pembuatan sol Al(OH)3

Larutan AlCl3 atau Al2(SO4)3 atau tawas dalam air

AlCl3 (aq) + 3H2O (l) → Al(OH)3 (s) + 3HCL (aq)

3. Reaksi Subtitusi

Soal As2S3 dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan asam arsenit

yang encer melalui reaksi substitusi berikut :

2H3AsO3 (aq) + 3H2S (g) → As2S3 (s) + 6H2O

4. Reaksi Penggaraman

Beberapa soal garam yang sukar larut seperti AgCl, AgBr, PbI2, PbSO4,

BaSO4 dapat membentuk partikel koloid dengan pereaksi yang encer.

AgNO3 (aq) + NaCl (aq) → AgCl (s) + NaNO3 (aq)

Reaksi ini dapat dipadukan dengan cara dispersi agar tidak dihasilkan endapan.

5. Penambahan (percikan) pelarut yang sukar larut

a. Kalsium asetat mudah larut dalam air tetapi sukar larut dalam alkohol. Maka

kalsium asetat dilarutkan dalam air sehingga membentuk larutan. Kemudian

larutan kalsium asetat ditambahkan alkohol, maka membentuk jeli.

b. Arpus (damar) mudah larut dalam alkohol tetapi sukar larut dalam air. Larutan

arpus dalam alkohol ditambahkan air maka diperoleh sol arpus.

B. CARA DISPERSI

Cara ini dilakukan dengan cara mengubah partikel ukuran besar menjadi partikel

koloid.

Partikel besar → partikel koloid

1. Cara Mekanik

Ini dilakukan dari gumpalam materi yang besar kemudian dihaluskan dengan

cara penggerusan atau penggilingan. Setelah diperoleh partikel yang halus, kemudian

didispersikan dalam medium pendispersi. Agar partikel padatan tidak mengendap

maka ditambahkan zat penstabil.

Cara mekanik banyak dilakukan di industri seperti pembuatan lotion,

pembuaan cat.

2. Cara Busur Bredig

Mula-mula logam yang akan didispersikan (logam Au atau Pt) dibuat seperti

elektroda, kemudian kedua logam dihubungkan dengan arus listrik dan dicelupkan

dalam larutan KCL 0,001 M. Panas yang timbul mula-mula mengapkan logam

kemudian uap logam terkondensasi dalam larutan dan membentuk partikel koloid.

Dilihat dari prosesnya cara Bredig bisa dikategorikan cara dispersi dan cara

kondensasi.

Batangan logam → uap logam → partikel koloid

Au (s) Au (s)

Kcl 0,001 M

Gambar 15.1 : Cara Busur Bredig

3 Cara Pepisasi

Cara ini mengubah endapan yang terjadi dengan diubah menjadi partikel

koloid dengan cara penambahan zat kimia (elektrolit)

Reaksi pembentukan Al(OH)3 dalam jumlah banyak dapat membentuk

endapan Al(OH)3. Endapan Al(OH)3 diubah menjadi partikel koloid dengan cara

penambahan AlCl3. Endapan CdS atau NiS jika dialiri gas H2S akan terbentuk sol S

yang terdispersi. Jadi sol sulfida bukan berasal dari larutan tetapi dari endapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: